1.28.2011

29 Januari 2010,

Hari ini kelas kesayanganku, 8G, dibanjiri airmata.

Semua anak perempuan sharing bareng.
Mengeluarkan seluruh unek-unek yang ada,
saling mengintrospeksi diri,
dan kemudian saling melapangkan dada untuk meminta maaf dan memaafkan sesama.

Hari ini entah kenapa semua bisa menyatakan semua unek-uneknya secara gamblang.
Udah gitu, keadaan terus berjalan serius dari awal sampai akhir.
Padahal biasanya, dikit-dikit ketawa, dikit-dikit becanda.

Hari ini, saking seriusnya, ada banyak yang nangis.
Aku juga sih, hehe.


Well, aku nggak bisa cerita masalah apa aja yang dibahas, soalnya sifatnya privacy.
Tapi yang jelas, hari ini aku mendapat banyak hikmah dari sharing bareng ini.
Such as:
1. Jangan suka mendam masalah.
2. Jangan suka ikut campur masalah orang lain.
3. Jangan suka nyebarin rasa nggak suka sama seseorang ke orang lain.
4. Jangan mudah terpengaruh apa kata orang.
5. Jangan suka beda-bedain temen.
6. Jangan suka besar-besarin masalah.
7. Jangan terlalu sensitif.
....
....

Well, aslinya masih banyak lagi sih.
Tapi aku nggak bisa inget semuanya. Hehe.
(Penyakit pelupa akut)



Ehem.
Well actually,
kalo boleh jujur sih,
pas semuanya lagi nangis, menarik berbagai macam kesimpulan dan hikmah,

aku justru tertawa dalam hati.

Bukan maksudnya menertawakan wajah anak-anak yang lagi nangis (yang emang sebenernya semua ancur banget -termasuk aku-)

Tapi karena semua hal itu membuatku merasa bahwa,
pendirianku terasa begitu benar.

Pendirian yang
dibangun sendiri oleh alam bawah sadarku.

Pendirian yang baru
kusadari bulan lalu, setelah merenung dalam keboringan,

Pendirian yang kusadari sebagai sebuah
pendirian yang keliru,

Pendirian yang entah bagaimana
telah tertanam begitu dalam pada diriku.

Dan juga pendirian yang entah bagaimana
tetap kuikuti walau aku tahu itu keliru.


Begini,
Alam bawah sadarku selalu berpikir,
bersosialisasi adalah sesuatu yang sangat merepotkan.

Karena kita harus menjaga perasaan orang lain,
dengan cara menjaga perilaku kita,
menjaga lisan kita,
dan lain sebagainya.

Oleh karena itu,
aku selalu menarik diri, menyendiri.
Selalu berkutat dalam duniaku sendiri.
Bersama komputer, handphone, komik, novel dan sebagainya.


Well,
kurasa,
menarik diri dari komunitas adalah sesuatu yang sangat mudah untuk dilakukan.

Karena itu tak akan menyakiti orang lain,
kita tak perlu menjaga perasaan orang lain,
tak perlu menjaga sikap dan perkataan kita.

Well, memang sih, kalau menyendiri akan jadi bahan pembicaraan orang lain,

tapi itu tak masalah!


IT'S ME,
SO WHAT??